Dalam beberapa tahun terakhir, muncul pergeseran menarik dalam cara dunia memandang kepemimpinan. Jika dahulu kepemimpinan identik dengan ketegasan, dominasi, dan keberanian mengambil risiko, karakteristik yang kerap dilekatkan pada laki-laki. Kini, justeru kini lanskap tersebut mulai berubah.
Sejumlah riset menemukan bahwa dalam beberapa hal, perempuan dinilai lebih efektif. Studi dari Pew Research Center menemukan bahwa perempuan dinilai unggul dalam sejumlah kompetensi penting, seperti empati, kemampuan mendengarkan, integritas, dan kemauan untuk mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan. Di sisi lain, laki-laki masih lebih sering diasosiasikan dengan ketegasan dan keberanian dalam menghadapi risiko.
Contohnya, Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Indonesia (2014–2024), dikenal dengan gaya kepemimpinan transformasional dan berbasis empati. Sebagai perempuan pertama di posisi tersebut, ia berhasil menembus batasan struktural, memperkuat posisi Indonesia di kancah global melalui diplomasi aktif, dan menekankan pentingnya trust (kepercayaan) dalam hubungan internasional.
Dahulu, saat menjabat sebagai Wali Kota Surabaya (2010-2020), Tri Rismaharini Adalah contoh pemimpin Perempuan yang soft & tough untuk mengejar hasil. Kemampuan mendengarkan dan mudah empati menjadi ciri khas kepemimpinannya. Tetapi, di pihak lain, ia juga sangat keras, tegas, dan gampang marah jika dianggap salah.
Kini, di tengah kompleksitas bisnis, disrupsi teknologi, dan tuntutan kolaborasi lintas fungsi, gaya kepemimpinan yang mengedepankan hubungan, inklusivitas, dan kecerdasan emosional justru semakin relevan. Dalam konteks ini, banyak karakteristik yang sering dikaitkan dengan pemimpin perempuan menjadi semakin bernilai.
Temuan dari Gallup memperkuat hal tersebut. Tim yang dipimpin oleh perempuan dilaporkan memiliki tingkat keterlibatan (engagement) yang lebih tinggi, turnover yang lebih rendah, serta performa yang lebih konsisten. Ini mengindikasikan bahwa efektivitas kepemimpinan tidak hanya diukur dari hasil jangka pendek, tetapi juga dari kemampuan menjaga stabilitas dan keberlanjutan kinerja tim.
Pada akhirnya, diskursus ini bukan tentang siapa yang lebih unggul secara mutlak, melainkan tentang bagaimana organisasi dapat memanfaatkan keragaman gaya kepemimpinan. Perempuan membawa kekuatan yang semakin relevan di era modern, tetapi efektivitas sejati tetap bergantung pada kemampuan setiap pemimpin untuk beradaptasi, memahami konteks, dan menggerakkan orang lain menuju tujuan bersama. []
Download disini.



