Quiet Leadership, Big Impact

Bila Anda membaca buku Quiet Leadership: Winning Hearts, Minds and Matches (2016) karya Carlo Ancelotti, ditemukan bagaimana pemimpin yang tenang justeru menghasilkan impact besar bagi tim yang ditanganinya. Begitupun bila melihat sosok Nurhayati Subakat, ia adalah tipe pemimpin tenang yang bisnisnya berkembang pesar.

Kisah kepemimpinan Nurhayati tidak dimulai dari ambisi untuk menjadi besar, melainkan dari niat untuk menjadi bermakna. Ketika ia merintis bisnisnya pada 1985, fokus utamanya bukan sekadar menciptakan produk kosmetik, tetapi menghadirkan produk yang halal, aman, terjangkau, dan relevan dengan kebutuhan perempuan Indonesia. Di titik inilah fondasi kepemimpinannya terbentuk: nilai sebagai kompas utama.

Berbeda dengan banyak pemimpin yang membangun organisasi dari strategi lalu mencari nilai yang cocok, Nurhayati justru melakukan sebaliknya. Ia memulai, lalu menurunkannya menjadi strategi. Nilai-nilai seperti integritas, kebermanfaatan, dan spiritualitas tidak berhenti sebagai jargon, tetapi dihidupkan dalam praktik sehari-hari organisasi. Di Paragon, bisnis tidak diposisikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk memberi dampak yang lebih luas.

Pendekatan ini kemudian membentuk gaya kepemimpinan yang transformasional, tetapi tetap membumi. Nurhayati mampu membawa perusahaannya beradaptasi dengan perubahan zaman, mulai dari tren kosmetik halal hingga dinamika pasar generasi muda, tanpa kehilangan jati diri. Ia menunjukkan bahwa transformasi tidak harus berarti meninggalkan akar, tetapi justru memperkuatnya dalam konteks yang baru.

Salah satu kekuatan paling menonjol dalam kepemimpinannya adalah empati. Di lingkungan Paragon, karyawan tidak diperlakukan sekadar sebagai sumber daya, tetapi sebagai individu yang memiliki potensi dan tujuan. Budaya organisasi yang dibangun menekankan rasa memiliki, kebersamaan, dan pertumbuhan bersama. Dalam konteks ini, empati bukan sekadar kelembutan, tetapi menjadi kekuatan strategis yang mendorong loyalitas dan keterlibatan.

Menariknya, semua itu dijalankan tanpa banyak sorotan. Gaya kepemimpinannya cenderung rendah hati, jauh dari kesan flamboyan atau dominan. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak harus keras untuk menjadi tegas, dan tidak harus terlihat mencolok untuk menghasilkan dampak besar.

Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini terasa sangat relevan. Nilai-nilai yang dipegang Nurhayati, seperti kebersamaan, musyawarah, dan spiritualitas, selaras dengan budaya lokal. Namun, ia tidak berhenti di sana. Ia mampu menggabungkan nilai-nilai tersebut dengan standar profesionalisme dan daya saing global, menjadikan Paragon sebagai contoh perusahaan lokal yang mampu tumbuh tanpa kehilangan identitasnya.

Pada akhirnya, kepemimpinan Nurhayati Subakat mengajarkan satu hal penting: bahwa kekuatan seorang pemimpin tidak selalu terletak pada seberapa keras ia berbicara atau seberapa cepat ia bergerak, tetapi pada seberapa dalam nilai yang ia tanamkan dan seberapa konsisten ia menjaganya.

Kepemimpinan seperti ini mungkin tidak selalu terlihat mencolok. Namun, ia terasa dalam budaya organisasi, dalam loyalitas karyawan, dan dalam keberlanjutan bisnis yang dibangun. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *