Lost in Transmission

Komunikasi rantai komando ala Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan Letkol Teddy Indra W. sebagai strategic filter saat ini dapat berpotensi mengurangi kualitas pesan yang disampaikan?

Jika melihat peran Letkol Teddy Indra Wijaya hari-hari ini yang sering viral di media sosial, kita jadi tahu bahwa peran Seskab tidak sekadar administratif semata, melainkan menjadi pusat kendali arus komunikasi strategis antara Presiden dan para menterinya, dan antara presiden ke rakyat, dari rakyat ke presiden.

Dalam sistem kepemimpinan yang semakin kompleks, efektivitas komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kejelasan pesan Presiden, tetapi juga oleh bagaimana pesan tersebut ditransmisikan melalui struktur organisasi. Ketika peran Sekretaris Kabinet menjadi sangat sentral—sebagai filter, penerjemah, sekaligus pengendali arus komunikasi—maka muncul satu risiko klasik dalam teori komunikasi organisasi: lost in transmission, yaitu hilangnya sebagian makna pesan saat berpindah dari satu level ke level lainnya.

Kemungkinan terjadinya lost in transmission dalam konteks ini cuku relevan, terutama karena adanya proses berlapis dalam penyampaian pesan. Arahan Presiden tidak selalu disampaikan secara langsung kepada seluruh menteri atau publik, melainkan melalui proses penyaringan, penyederhanaan, dan framing oleh Seskab. Setiap tahapan ini, meskipun bertujuan meningkatkan kejelasan, pada saat yang sama juga membuka ruang distorsi. Pesan yang awalnya bersifat strategis dan bernuansa bisa berubah menjadi lebih teknis, atau sebaliknya, kehilangan konteks penting yang justru krusial bagi implementasi.

One-Command

Ketika komunikasi lebih didominasi oleh pola komando, pertukaran gagasan yang sehat dan menjadi terbatas. Padahal, kualitas kebijakan publik sangat bergantung pada keberagaman perspektif yang masuk sebelum keputusan diambil. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas kebijakan, meskipun secara eksekusi terlihat rapi.

Strategic Filter

Sebagai penghubung utama, Seskab memiliki kewenangan besar dalam menentukan informasi mana yang sampai ke Presiden dan bagaimana informasi tersebut dibingkai. Dalam hal ini, ada risiko bias, yang dapat membuat Presiden tidak memperoleh gambaran utuh/komprehensif mengenai situasi di lapangan.

Top-Down

Gaya komunikasi top-down: dari Presiden ke menteri, atau dari pusat ke publik, memperbesar potensi lost in transmission. Minimnya mekanisme feedback loop membuat distorsi tidak terdeteksi sejak awal. Presiden mungkin merasa pesan sudah tersampaikan jelas, sementara di lapangan terjadi berbagai interpretasi yang berbeda. []

Buletin terbaru dapatkan disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *